Selasa, 18 September 2018

PEMBELAJARAN SAINS ABAD KE-21


Bentuk Pembelajaran Abad 21
Dunia pendidikan secara dinamis akan selalu mengalami perubahan yang berimbas pada tuntutan perubahan pada pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya. Pembelajaran abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi prioritas dalam daftar kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21 (21st Century Literacy Summit,2010).
Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi guru di era pembelajaran abad ke-21 ini juga semakin beragam. Salah satunya kemajuan teknologi. seorang guru dituntut mengerti dan menguasai teknologi, khususnya komputer dan internet, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dimana internet merupakan produk informasi teknologi yang sangat luar biasa perkembangannya saat ini, arus informasi yang disediakan di internet sangat beragam sehingga sangat membantu para guru dalam proses belajar dan pembelajaran. Manfaat yang bisa didapatkan misalnya guru dapat meng-update informasi mengenai kurikulum dan bahan ajar yang baru yang berupa power point maupun animasi pembelajaran yang pastinya membantu proses belajar mengajar.
Abad 21 merupakan era meningkatnya teknologi di berbagai negara. Pada abad 21 ini, Para siswa dituntut menguasai teknologi dan terampil dalam berkolaborasi. Pada abad 21 para siswa dituntut memiliki keterampilan hidup dan kemampuan yang sesuai dengan lapangan kerja. Pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dan berupa praktek nyata  sangat tepat diterapkan.
Menghadapi abad 21, proses pembelajaran di kelas tidak boleh hanya didominasi Guru. Keterlibatan Peserta didik dalam proses pembelajaran harus ditingkatkan. Berbagai media dan model pembelajaran harus sering digunakan untuk mengatasi kejenuhan dalam proses pembelajaran. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan penting dalam pengembangan IPTEK.
Pada abad 21 ini persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan khususnya pendidikan sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan IPTEK.
Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal :
1.      Ilmu pengetahuan (have a body of knowledge)
2.      keterampilan ilmiah (scientific skills)
3.      Keterampilan berpikir (thinking skills)
4.      Strategi berpikir (strategy of thinking)
5.      Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
6.      Standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment)
Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013 semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA.
Manajemen Sistem Pendidikan Abad 21
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:  
1.      Instruction should be student-centered
Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat. Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
2.      Education should be collaborative
Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. Begitu juga, sekolah seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan lainnya untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3.      Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata. Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4.      Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya. Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab
DISKUSI :
1.    Dalam pembelajaran abad ke 21 tentunya guru harus menguasai keterampilan yang beragam, salah satunya seorang guru harus menguasai teknologi seperti internet dan lainya. Bagaimana dengan guru yang tidak paham akan teknologi seperti komputer dan internet? Menurut saudara/i bagaimana menyingkapi masalah yang seperti ini?
2.    Pada abad ke 21 tentunya akan banyak sekali teknologi canggih yang digunakan untuk membantu dalam proses pembelajaran, lantas bagaimana solusi atas dampak negatif  bagi siswa dalam penggunaan teknologi canggih di abad 21 ini?
3.    Pada abad 21 ini, Para siswa dituntut menguasai teknologi, lalu bagaimana dengan pembelajaran pada suatu daerah atau sekolah yang sarana dan prasarananya kurang atau tidak memadai?

Kamis, 13 September 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF

                                                         

1.      Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan  mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan measyarakat.
a.      Langkah-langkah Pembelajaran CTL
·         Kembangkan sebuah pemikiran dimana siswa akan belajar lebih bermakna jika mereka bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksikan sendiri berkenaan dengan pengetahuan dan keterampilan barunya.
·         Lakukan sejauh mungkin aktifitas inkuiri untuk semua pembahasan.
·         Kembangkan sifat ingin tahu para peserta didik dengan bertanya.
·         Ciptakan masyarakat belajar di dalam kelas.
·         Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 
·         Lakukan sebuah kegiatan refleksi diakhir pertemuan.
·         Lakukan sebuah penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
b.      Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran CTL
Kelebihan
·           Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.
·           Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
·           Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
·           Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
·           Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
·           Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
·           Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok
Kekurangan
·    Guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tidak sama.
·         Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam Proses belajar mengajar
·         Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
·         Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
·         Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
·         Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

2.      Pembelajaran Kolaboratif (Colaborative Learning)
Menurut Deutch (Feng Chun, 2006), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama. Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota  kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.
a.      Langkah-langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
·         Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
·         Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
·         Kelompok kolaboratif bekerja dalam mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
·         Setelah kelompok menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
·         Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
·         Masing-masing siswa dalam kelompok melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
·         Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok.
·         Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan

b.   Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kolaborasi
Kelebihan
·          Siswa belajar bermusyawarah
·         Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
·         Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
·         Dapat memupuk rasa kerja sama
·          Adanya persaingan yang sehat
Kelemahan
·         Padapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
·         Membutuhkan waktu cukup banyak.
·         Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
·         Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.


DISKUSI
1.      Apakah bisa jika saat tertentu guru menggunakan model kontekstual dan model kolaboratif secara bersamaan ?
2.      Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model konstektual maupun kolaboratif. Jadi bagaimana peran guru dalam menghadapi hal ini ?
3.      Menurut saudara/i apakah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif mampu menarik minat dan motivasi belajar siswa ?