Bentuk
Pembelajaran Abad 21
Dunia pendidikan secara dinamis akan
selalu mengalami perubahan yang berimbas pada tuntutan perubahan pada
pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya. Pembelajaran
abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya. Teknologi informasi dan
komunikasi menjadi prioritas dalam daftar kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan
untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21 (21st Century Literacy Summit,2010).
Seiring dengan pesatnya perkembangan
zaman, tantangan yang dihadapi guru di era pembelajaran abad ke-21 ini juga
semakin beragam. Salah satunya kemajuan teknologi. seorang guru dituntut
mengerti dan menguasai teknologi, khususnya komputer dan internet, sebagai alat
untuk mencapai tujuan pendidikan. Dimana internet merupakan produk informasi
teknologi yang sangat luar biasa perkembangannya saat ini, arus informasi yang
disediakan di internet sangat beragam sehingga sangat membantu para guru dalam
proses belajar dan pembelajaran. Manfaat yang bisa didapatkan misalnya guru
dapat meng-update informasi mengenai kurikulum dan bahan ajar yang baru yang
berupa power point maupun animasi pembelajaran yang pastinya membantu proses
belajar mengajar.
Abad 21 merupakan era meningkatnya
teknologi di berbagai negara. Pada abad 21 ini, Para siswa dituntut menguasai
teknologi dan terampil dalam berkolaborasi. Pada abad 21 para siswa dituntut
memiliki keterampilan hidup dan kemampuan yang sesuai dengan lapangan kerja.
Pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dan berupa praktek
nyata sangat tepat diterapkan.
Menghadapi abad 21, proses pembelajaran
di kelas tidak boleh hanya didominasi Guru. Keterlibatan Peserta didik dalam
proses pembelajaran harus ditingkatkan. Berbagai media dan model pembelajaran
harus sering digunakan untuk mengatasi kejenuhan dalam proses pembelajaran. Saat ini
peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus diupayakan karena sangat
diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan penting dalam
pengembangan IPTEK.
Pada abad 21
ini persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan
khususnya pendidikan sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan
pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi.
Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang
berkualitas dapat menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang
dihadapi dalam pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui
peningkatan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia
khususnya peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat
diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting
dalam pengembangan IPTEK.
Pembelajaran
IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal :
1. Ilmu
pengetahuan (have a body of knowledge)
2. keterampilan
ilmiah (scientific skills)
3. Keterampilan
berpikir (thinking skills)
4. Strategi
berpikir (strategy of thinking)
5. Berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
6. Standar
asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami
siswa dalam pembelajaran (authentic assessment)
Penerapan
standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan
memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan
pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa.
Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan
mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha
untuk memahami lingkungan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang
siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk
mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21
dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum
2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013 semakin mempertegas peran
pendidikan nasional. Pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai
wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu juga dijadikan
acuan dalam pembelajaran IPA.
Manajemen
Sistem Pendidikan Abad 21
Menurut Jennifer Nichols manajemen
pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4 prinsip, yaitu:
1.
Instruction should be student-centered
Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang
secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi
dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru,
tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat. Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan
siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan
mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang
dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang
berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi
pengetahuan dan keterampilannya.
2. Education should be
collaborative
Dalam
menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa
berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek,
siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang
serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan
mereka. Begitu juga, sekolah seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga
pendidikan lainnya untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik
dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia
melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3. Learning should have
context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti
jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena
itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru
mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia
nyata. Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas
apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan
dunia nyata.
4. Schools should be
integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa
menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat
memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya,
mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil
peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat
dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti:
program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu,
siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan
empati dan kepedulian sosialnya. Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa
saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi
hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan
masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa
menjadi warga digital yang bertanggung jawab
DISKUSI :
1.
Dalam pembelajaran abad ke 21 tentunya
guru harus menguasai keterampilan yang beragam, salah satunya seorang guru
harus menguasai teknologi seperti internet dan lainya. Bagaimana dengan guru
yang tidak paham akan teknologi seperti komputer dan internet? Menurut
saudara/i bagaimana menyingkapi masalah yang seperti ini?
2.
Pada abad ke 21 tentunya akan banyak sekali teknologi
canggih yang digunakan untuk membantu dalam proses pembelajaran, lantas
bagaimana solusi atas dampak negatif bagi
siswa dalam penggunaan teknologi canggih di abad 21 ini?
3.
Pada abad 21 ini, Para siswa dituntut
menguasai teknologi, lalu bagaimana dengan pembelajaran pada suatu daerah atau
sekolah yang sarana dan prasarananya kurang atau tidak memadai?